“Hotspot”, Sebatas Gaya Hidup
Jangan terpana dulu menyaksikan demam hotspot di Yogyakarta. Pasalnya, fenomena ini belum menjadi pemicu bangkitnya kesadaran untuk memanfaatkan teknologi. Fenomena ini baru menunjukkan perayaan konsumerisme.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito, mengatakan, demam hotspot baru sebatas tren gaya hidup. ”Sebagian orang baru sebatas menjadi pengguna. Mereka belum benar-benar memanfaatkan teknologi itu untuk meningkatkan kapasitas pribadi,” ujar Arie, Kamis (5/6).
Tempat ber-hotspot yang diserbu pun, kata Arie, lebih banyak di kafé-kafé, bukan perpustakaan. Di sana, mereka lebih banyak chatting dan membuka situs Friendster sambil minum kopi daripada menimba pengetahuan dari dunia maya.
Demam hotspot yang terjadi saat ini memang merupakan kelanjutan dari perubahan gaya hidup di Yogyakarta yang didorong oleh munculnya kafe-kafe dan mal. Tidak heran jika cara masyarakat memanfaatkan teknologi hotspot dan Wi-Fi sama dengan cara masyarakat ”mengunyah” fashion.
”Sekarang mulai banyak anak muda Yogya yang berganti-ganti laptop ber-WiFi sesuai dengan tren model laptop. Laptop yang dicari pun yang warna-warni dan gaya,” tambahnya.
Ferdiansyah Thajib, aktivis Kunci yang merupakan lembaga kajian budaya di Yogyakarta, sepakat bahwa demam laptop di Yogyakarta sebatas tren bisnis dengan target pasar mahasiswa. Dia yakin tren seperti ini akan segera berganti.
Arie menambahkan, masyarakat Yogyakarta seharusnya bisa memanfaatkan teknologi, termasuk hotspot, dengan kesadaran kritis. Fenomena ini harusnya bisa dimanfaatkan untuk membebaskan diri dari kebodohan, bukan untuk merayakan konsumerisme. ”Jika sekadar merayakan konsumerisme, saya khawatir mereka akan terperosok ke dalam halusinasi gaya hidup dan membuat mereka terdehumanisasi,” kata Arie.
Orang akan lebih berpikir bagaimana caranya bisa membeli laptop baru dan nongkrong di kafe ber-hotspot daripada berpikir bagaimana memaksimalkan pemanfaatan teknologi itu. Orang merasa telah menguasai teknologi, padahal mereka sekadar pengguna. (BSW/IND)
Diambil dari:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/08/00373965/hotspot.sebatas.gaya.hidup
Sama halnya dengan ketika hp (handphone) berteknologi tinggi (3G) booming di Indonesia, semua orang berlomba2 u/ membelinya. Karakter hp 3G paling menonjol adalah memiliki 2 kamera, didepan dan di belakang, sehingga dengan mudah bisa memotret, sekaligus melihat previewnya langsung melalui layar. Kita dengan mudah bisa menentukan posisi dan image yg sesuai dengan keinginan kita. Imbasnya, teknologi video streaming yg sengaja dikenalkan melalui hp 3G justru tidak banyak digunakan. Orang cenderung menggunakan hp 3G secara “instant” hanya untuk memotret, sementara teknologi koneksi internet cepat 3G sama sekali terabaikan… -beli hp mahal2 cuma sekedar buat photo2… jadi tambah narsis- video streaming, high access internet connection justru terabaikan dengan alasan “mahal, ribet, gak donk”, dll. Masyarakat cenderung memakai cara konvensional (baca: kuno) dalam memanfaatkan teknologi, dan cenderung Instant.
Yah… Masyarakat kita belum memiliki kesadaran penuh dalam pemanfaatan teknologi, entah dari segi SDM atau pola pikir. Masyarakat kita cenderung berpikir instant, berorientasi pada hasil, belum benar2 paham mengenai teknologi. Notebook, sebagai sebuah komputer mobile kini hanya dipakai sebagai sarana “nge-net gratis”, belum bisa berfungsi sebagai sarana yang benar2 efisien (menyelesaikan pekerjaan, bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi) sebagai alat bantu efektif. Yah itulah masyarakat kita, berusaha untuk tidak ketinggalan dengan negara lain, tanpa pernah belajar membenahi dasar2 pribadi mereka. Masyarakat kita selalu melihat keatas, tanpa pernah bercermin atau melihat ke bawah. Hotspot, notebook bagi orang barat terbukti memudahkan pekerjaan mereka dan mengembangkan diri. Namun bagi kita, justru sebagai sebuah hedonisme, ngenet gratis, gaul, adu prestise, dll…
Saatnya menata kembali pola pikir dan SDM kita dalam memanfaatkan teknologi, dalam rangka menuju hidup yg lebih baik
Tags: gaya hidup, hotspot, renungan, teknologi
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.